oleh

Haji Sasa, Sosok Pengusaha Kota Tepian yang Sangat Peduli Pada Warga Kecil

Samarinda, Info Benua — “Pengusaha sukses dan besar banyak di kota Samarinda ini, namun pengusaha yang rendah hati, gemar berbagi, dan sangat peduli kepada warga kecil hanya Haji Suriansyah alias Haji Sasa,” demikian yang dikatakan warga.

Pandemi virus Corona atau Covid-19, hingga saat ini masih belum berakhir. Mengobok-obok seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Nyaris dua tahun sudah berjalan. Begitu banyak memakan korban jiwa. Ribuan. Virus ini benar-benar menjadi momok yang menakutkan, dan mampu merubah tatanan kehidupan bermasyarakat. Kerumunan dalam jumlah besar dilarang, keluar rumah dibatasi, harus selalu jaga jarak, rajin cuci tangan, dan kemana-mana harus pakai masker.

Hal seperti itu saja sudah membuat masyarakat kecil gundah dan kelimpungan. Apalagi ketika pemerintah memberlakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), menyusul meningkatnya penyebaran Covid-19 yang tambah banyak meminta korban jiwa. Pusat-pusat perbelanjaan dilarang buka, para pedagang jajanan atau kuliner di area-area tertentu juga ditutup. Perekonomian warga menjadi lumpuh.

Demikian pula yang dialami pedagang-pedagang makanan pinggir jalan. Meskipun mereka tetap berjualan namun pembelinya sepi. Pokoknya, pendapatan menurun drastis selama pandemi ini.

Hal tersebut menjadi perhatian seorang pengusaha kota Samarinda, yaitu Haji Suriansyah, 47 tahun, yang lebih populer dipanggil dengan sebutan Haji Sasa.

H Sasa yang peduli dengan sesama.
H Sasa yang peduli dengan sesama.

Sosok H Sasa yang dikenal memang sangat low profile dan dermawan ini,
menyadari bahwa pandemi Covid-19 ini telah menyusahkan hidup banyak orang, terutama warga yang tergolong ekokomi lemah.

“Sebagai orang yang lama hidup miskin dan susah, saya bisa merasakan bagaimana hidup dalam keterbatasan gerak akibat pandemi virus Corona ini bagi warga kecil kurang mampu. Secara ekonomi hidup mereka terpuruk, dan mereka perlu bantuan,” kata H Sasa.

Tokoh kita ini — yang pernah lama hidup sengsara dan menggelandang — sangat tersentuh oleh kondisi yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh semua orang akibat virus Corona ini.

H Sasa, dengan caranya sendiri, tergerak memberi bantuan terhadap warga yang kurang mampu. Juga kepada para pedagang makanan pinggir jalan. Beliau memborong semua dagangan yang sepi pembeli, dan membagikannya secara gratis kepada warga.

Momen itu biasa dilakukannya pada hari Sabtu dan Minggu. H Sasa akan berkeliling ke jalan-jalan besar di kota Samarinda, dan membayar semua dagangan makanan milik pedagang kecil itu, untuk kemudian dibagikan pula kepada warga yang sangat senang menerima karena memang mereka juga sangat membutuhkan makanan. Selain itu, H Sasa juga memberikan bantuan berupa uang tunai secara langsung kepada warga miskin.

“Rezeki ini yang saya peroleh semua dari Allah SWT. Itu bukan milik saya semua. Ada hak orang lain di situ. Oleh sebab itu kita harus berbagi dan membantu sesama,” kata H Sasa yang kini usahanya telah makin berkembang merambah sektor pertambangan batu bara.

H Sasa memulai usahanya sejak tahun ’90 an. Merintis mulai dari dasar. Tertatih dan jatuh bangun. Dia sempat menjadi kuli dan tukang bangunan, lantas naik tingkat jadi pemborong. Sayang, pada 2008 dia mengalami paceklik dan bangkrut, hingga terlilit hutang ratusan juta rupiah.

Namun pada 2010 prospek bidang usahanya mulai naik dan berkembang. Hal tersebut lantaran H Sasa memperoleh modal yang cukup besar dari jual beli tanah. Bisnis properti kembali dia tekuni. Pada 2013 dia berhasil membangun beberapa perumahan.

Selain sangat perhatian kepada warga kecil yang kurang mampu, H Sasa juga peduli dengan anak yatim dan golongan lanjut usia (lansia). Oleh sebab itu beliau mendirikan lembaga yang bergerak dibidang pendidikan dan sosial berupa yayasan, yaitu Yayasan Mansyur Tuah. Kantornya berada di Jl Mugirejo, Samarinda. Di lokasi itu juga menampung anak yatim dan orangtua jompo.

Selaku Ketua Yayasan, H Sasa mengatakan bahwa yayasan yang dia pimpin murni menggunakan dana sendiri, dan tidak ada sama sekali menggunakan dana dari pemerintah. *** (Bersambung/Akhmadi S.)

News Feed