oleh

Hutan Orangutan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Dirambah Oknum Petani Sawit

SAMARINDA, Info Benua – Lagi, puluhan hektar hutan milik Yayasan Borneo Orangutan Survivel Foundation (BOSF) Samboja Lestari, Kutai Kartanegara (Kukar), dirambah oknum petani sawit. Hutan tersebut merupakan rumah rehabilitasi orangutan yatim piatu yang dibesarkan oleh yayasan. Total luasan hutan yang dirambah kini mencapi 339,25 hektar, diduga, ratusan hektar tersebut akan digunakan untuk area perkebunan sawit.

Menejer Yayasan BOS, Agus Irwanto mengungkapkan, kejadian tersebut sudah terjadi sejak tahun 2012. Perambahan hutan menggunakan alat berat dan jaraknya sudah mendekati area sekolah dan kandang-kandang orangutan. “Kami berhadapan dengan oknum petani sawit yang bernama Hariyadi. Sudah sering terjadi demikian, hutan-hutan dirambah berulangkali. Kalau dilaporkan dan dikumpulkan di Kelurahan hingga Kecamatan, nanti dia setop sementara dan akan mengulangi,nya lagi” kata Agus, Selasa (25/7).

 

Diungkapkan Agus, saat ini perambahan hutan sudah mendekati sekolah hutan 2. Hanya berjarak 100 meter, sekolah hutan untuk orangutan berusia 8 tahun akan hilang. Padahal di sekolah hutan 2, diisi banyak siswa orangutan yang merupakan yatim piatu. Tidak hanya itu, diduga ribuan pohon sengon yang ditanami BOS yang berusia puluhan tahun juga akan hilang. Pasalnya di lokasi tersebut telah ditanami patok tanda akan dirambah. “Jaraknya semakin dekat, bahkan ada yang tinggal 100 meter. Orangutan-orangutan bisa setres jika mendengar alat berat bekerja atau ada suara-suara manusia yang mengganggu,” jelasnya.

CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite sangat merasa kecewa dengan perambahan hutan tersebut. Dia sudah berkali-kali pihaknya meminta bantuan pada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk melindungi hutan-hutan orangutan dari ancaman perambahan hutan. Dia menegaskan,  konservasi orangutan sebagai satwa yang dilindungi Undang-Undang adalah tanggung jawab semua pihak. Dari pemerintah pusat, daerah, bahkan pelaku bisnis sampai masyarakat setempat. “Ini jelas diatur Undang-Undang. Pelanggar Undang-Undang jelas harus mendapat hukuman yang seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku,” kata Jamartin.

Terkait hutan milik BOS, pihaknya telah berbicara dengan Dinas Transmigrasi Kabupaten Kutai Kartanegara sejak tahun 2013-2014 lalu dan menyepakati bahwa lahan Samboja Lestari seluas 1.850 hektar merupakan milik sah Yayasan BOS. “Kami sudah tuntas membeli seluruh lahan tersebut sejak bertahun-tahun lalu, dengan legal surat yang ditandatangani puluhan notaris yang berbeda-beda. Ada sebanyak 300 lebih surat tanah dari Dinas Pertanahan Nasional yang kami miliki,” ungkapnya.

Sementara itu, Aryadi menegaskan pihaknya adalah petani yang resmi dari pemerintah. “Ini kan lahan tidur, kenapa tidak ditanami. Kami ada 250 orang, satu orang hanya dapat 1 hektar. Kami kan menanam sawit saja,” pungkasnya. YZ

Save

Komentar

News Feed