oleh

Proposal Pendidikan Ramadhan

Wk Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan DPD KNPI Kutai Timur

Marhaban yaa Romadhon” ucapan tersebut adalah ungkapan kegembiraan kaum Muslimin atas datangnya bulan yang teramat mulia, agung dan suci. Di dalamnya terdapat amalan ibadah yang khusus dan istimewa sehingga bulan ini juga disebut bulan mubarokah, ampunan dan idhum minannar(Pembebasan dari api neraka).

Namun untuk meresapi makna ramadhan 1438 H ini perlu kita kaji tentang hakekat dari pada puasa (shiyam) ramadhan itu sendiri. Melalui firman Alloh swt. Di QS. Albaqoroh ayat 183 ;

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutibaalaikumushiyam kamaa kutiba alalladziina minqoblikum la’alakum tataquun. (QS 2:183)

Artinya :“wahai orang-orang yang beriman telah datang kepadamu kewajiban untuk berpuasa sebagaimana pula diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Dari ayat tersebut dapat kita identifikasi dengan pembagian berdasarkan kalimat menjadi beberapa bagian, yaitu :

  1. Sasaran Perintah, kalimat yaa ayyuhalladziina aamanuu adalah penegasan dari pada sasaran perintah, tanpa bersifat umum seperti yaa ayyuhannas tapi khusus (spesial) yang berarti adalah manusia-manusia pilihan. Siapa yang terpilih ? tentu yang terpilih adalah mereka yang beriman kepada Allah. Sasaran perintah ini sangat jelas, bersifat ujian dan pembuktian kita kepada Alloh sejauh mana mampu membuktikan bahwa di qolbu (hati) kita masih mempunyai iman. Kegembiraan atau beban adalah indikator tebal atau tipisnya iman. Namun kalimat gembira atau beban ini harus dipahami dalam kondisi normal karena ada orang beriman namun tidak gembira karena faktor udzur seperti sakit atau kondisi lain yang membuat ia bersedih karena tidak bisa menjalankan ibadah puasa, namun Allah maha pemurah untuk mereka yang udzur tentu ada peluang untuk menggantinya di hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan (qodho’) atau jika tidak memungkinkan lagi karena kehendak Allah bisa membayar kifarat (fidyah). Sasaran dari perintah puasa ini juga menunjukkan dari keterpilihan dalam hal iman sebagai pembuktian bahwa kita memiliki cinta kepada Alloh swt sebagai sang pencipta (kholik) yang menyandang predikat Illahiyah (Tuhan yang patut disembah) dengan segala kepemilikan absolut atas langit dan bumi ( Robbussamawati wal ardi) dan segala isinya sehingga sebagai hamba dan mahluk memiliki insting (ghorizah) untuk menjadi abdi bagi Raja yang menguasai lagit dan bumi serta segala isinya (Mulkissamaawwati wal ardi). Mengapa disebut sebagai manusia pilihan ? banyak alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Perintah puasa tidak akan bisa dilaksanakan oleh orang kuat, sehat, lapang, berkelebihan harta saja, karena faktanya banyak yang memiliki kriteria tersebut namun tidak bisa menjalankannya karena mereka tidak menyambut perintah itu dengan iman sebagai ajang pembukttian.
  2. Isi Perintah, kalimat kutiba alaikumushshiyam yang berarti “telah sampai kepadamu perintah untuk berpuasa”. Jika kita mendeklarasikan diri bahwa kita beriman kepada Alloh swt, tentu naluri kritis tidak akan muncul. Dengan prinsip menjalankan perintah dan khusnuzhon (berprasangka baik) kepada Alloh swt bahwa setiap perintah pasti ada hikmahnya. Belakangan ini memang banyak penemuan manfaat terkait ibadah kepada Alloh swt baik secara sosial maupun medis. Namun hendaknya keilmuan terkait sosial dan medis itu adalah dijadikan efect dari ibadah itu sendiri. Sebagai contoh orang melaksanakan sholat berjamaah dapat membuat pribadi menjadi disiplin, interaksi sosial membaik, ketaatan terhadap garis komando meningkat dan setiap gerakan adalah menyehatkan. Riset itu tentu tidak boleh dijadikan dasar kita untuk menjalankan sholat, akan tetapi sebagai efect, menjalankan sholat tentu harus dengan dasar iman yang dibuktikan dengan taqwa. Begitu pun dengan puasa, secara medis manfaat puasa sangatlah baik untuk kesehatan namun kita sebagai hamba Allah yang beriman jangan sampai salah niat yang akan berakibat ibadah puasa mejadi sia-sia.
  3. Perbandingan Perintah, kalimat kamaa kutiba alalladziina minqoblikum yang berarti “sebagaimana diwajibkan kepada umat sebelum kalian” adalah cara Alloh memberikan keyakinan kepada kita sebagai hambanya bahwa Alloh swt itu maha adil. Setiap umat dari generasi ke generasi pada masa sebelumnya juga mendapatkan perintah yang sama, yaitu berpuasa, jika demikian maka sholat pun tentu didapatkan meski dengan waktu dan bilangan yang berbeda. Alloh swt memastikan bahwa puasa adalah cara terbaik untuk membangun ruhiyah jiwa yang dapat meningkatkan keimanan dan membangun jiwa yang bertaqwa. Beberapa contoh umat terdahulu adalah umat nabi Musa AS yang berpuasa di setiap bulan pada 3 hari bulan purnama (ayyamul bidh) yang berarti dalam setahun adalah 36 hari, atau puasa nabi Dawud sehari puasa sehari berbuka yang berarti dalam setahun adalah 177 hari atau puasa nabi Isa AS setiap hari jum’at dalam kalender hijriyah setahun adalah 50 pekan berarti dalam setahun berjumlah 50 hari. Umat nabi Muhammad saw hanya 1 bulan (29 atau 30 hari) dan dalam waktu yang telah ditentukan ( ayyama ma’duudaat) sehingga syi’ar dari puasa itu bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia, mulai kepulauan di tengah samudera hingga daratan terpencil, gurun, pengunungan tinggi perkotaan hingga pelosok.
  4. Tujuan Perintah, kalimat la’alakum tattaquun yang berarti “ agar kamu bertaqwa”. Inilah tujuan yang harus kita garis bawahi. Tidak semata-mata puasa itu untuk sehat, untuk menjadi syi’ar akan tetapi membangun pribadi-pribadi yang bertaqwa yang dapat diaplikasikan di bulan-bulan berikutnya. Idul fitri juga menjadi ajang pembuktian apakah puasa ramadhannya berhasil atau tidak. Apakah ketaqwaannya meningkat atau selepas ramadhan justru seperti orang yang terlepas dari penjara merasa bebas sebebas-benasnya.

Hadits Rasululloh saw diriwayatkan oleh Aththobroni “ Kam Sho’imi laisalahu min shiyamihi ilal ju’u wal athosy” Artinya “berapa banyal orang yang berpuasa tapi sebenarnya tidak mendapat apa kecuali lapar dan dahaga”.

Semoga puasa kita di Romadhon 1438 H ini sukses menjadi shiyam yang mabrur bukan shiyam yang mardud.

Wallohu a’lam bishowab.

News Feed